Parahnya Land Subsidence di Porong

1 06 2007

Sedikit mengutip artikel di Kompas tanggal 26 Mei 2007 lalu…

Jembatan tol Gempol-Surabaya tampak teronggok patah— akhirnya dirobohkan. Bumi Porong tampaknya sedang menggeliat. Ambles di sini, naik di sana. Permukaan tanah bergerak naik-turun dan bergeser pula secara horizontal.

Itulah fenomena yang terjadi di kawasan Sidoarjo dengan pusat gerak dinamis permukaan di sekitar 150 meter di sebelah barat laut sumber semburan lumpur panas Lapindo. Dari penelitian pergerakan muka tanah, tercatat bahwa pada lokasi berjarak sekitar 3,7 kilometer dari pusat semburan terjadi pergeseran horizontal dan vertikal.

Fenomena itulah yang ditemukan Kelompok Keilmuan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (KK Geodesi FTSL ITB) yang dimotori Ketua KK Geodesi Hasanuddin Z Abidin. Mereka meneliti dengan menggunakan Global Positioning System (GPS).

Fenomena tersebut, menurut Kepala Unit Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, sebaiknya dihadapi dengan upaya mitigasi bencana. “Kalau amblesan yang terjadi, manusianya yang harus pergi karena menghentikan amblesan sekian luas, tidak bisa direkayasa,” papar Amien.

Dinamika yang kompleks

Tim KK Geodesi ini bekerja sama dengan berbagai pihak setiap melakukan penelitian dan hasilnya, permukaan bumi Porong, Sidoarjo, mengalami pergeseran secara horizontal dan vertikal dengan variasi spasial (secara ruang) dan temporal (secara waktu). Artinya, bangunan bisa bergeser mendatar, atau terungkit, atau ambles.

Hal itu diungkapkan anggota KK Geodesi FTSL ITB, Mipi Ananta Kusuma. “Di satu titik tidak mesti selalu terjadi amblesan. Misalnya di titik A, suatu kali dia terukur ambles, tetapi di lain waktu dia naik,” ujar Mipi. Gerak horizontalnya bergerak “memusat” menuju ke “satu titik”—sekitar 150 meter barat laut sumber semburan lumpur. “Akibatnya, nantinya akan berbentuk corong,” ujar Ketua Laboratorium Pengeboran Institut Teknologi Bandung Rudi Rubiandini pada kesempatan yang berbeda.

Hal tersebut disebabkan sejumlah faktor. Pergeseran horizontal dan vertikal bisa disebabkan oleh ground relaxation karena semburan lumpur—karena ada massa yang keluar dari dalam, atau karena pembebanan oleh lumpur dan tanggul yang terlokalisasi sehingga daerah lain permukaan “terungkit”.

Penyebab lain adalah proses land settlement and/or geological structure, yaitu proses pemadatan tanah atau karena ada struktur geologi yang lemah, seperti Sesar Watukosek yang membentang selatan-utara di bawah Sumur Banjarpanji-1. Sesar merupakan zona lemah akibat aktivitas seismik.

Dari data KK Geodesi tercatat amblesan paling cepat terjadi di titik pengukuran Rig-3 di Desa Siring, tempat relief well tiga akan dipasang, yaitu 105,3 cm dalam sebulan (Juli-Agustus 2006). Kecepatan amblesan kota Jakarta yang padat dengan gedung pencakar langit paling cepat 12 cm setahun(!). Sedangkan di Desa Candipari mengalami tingkat naik permukaan paling cepat, yaitu 47,1 cm sebulan.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: