Belajar Mengembangkan Ekonomi Mikro dari Muhammad Yunus

7 06 2007

by me

Akhir-akhir ini di media sering diutarakan tentang kekhawatiran terjadi kembali krisis ekonomi sbagaimana yang terjadi sekitar 1 dasawarsa yang lalu, bahkan Menteri Ekonomi pun angkat bicara. Meskipun memang hal tersebut dinilai sangat berlebihan lantaran modal yang ada dinilai cukup kuat untuk menhadapi krisis ekonomi.

Bila kita melihat dari sisi ekonomi makro negeri ini, maka banyak hal yang sangat mengesankan, terlihat dari rupiah yang semakin menguat dan Harga Saham Gabungan yang meningkat bahkan akhir-akhir ini sering tercipta rekor-rekor baru. Hanya saja sangat disayangkan itu tidak terjadi di sektor ekonomi mikro kita.

Mengapa? Seperti yang kita ketahui, ekonomi mikro berkaitan erat dengan mengalirnya uang ke masyarakat banyak, atau dengan kata lain modal yang seharusnya sampai ke pengusaha-pengusaha kecil cukup lancar, kemudian uang berputar, sehingga roda ekonomi masyarakat kecil bisa berjalan dengan lancar. Dan kenyataannya itu tidak terjadi dengan baik saat ini di Indonesia.

Lalu bagaimana kita bisa menggerakan sistem ekonomi mikro? Bagaimana aliran uang bisa mengenai sasaran yang tepat? Inilah yang bisa kita pelajari dari seorang Muhammad Yunus

Belajar dari Muhammad Yunus

“Suatu hari cucu-cucu kita akan harus pergi ke museum untuk melihat seperti apa itu kemiskinan” – dikutip di “The Independent”, 5 May 1996

Itulah kutipan kata-kata seorang Muhammad Yunus, yang menggambarkan semangat mengubah keadaan. Itulah yang membuatnya menerima Nobel Perdamaian atas terobosan yang luar biasa dalam mengentaskan kemiskinan dengan menerapkan kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum.

Muhammad Yunus merupakan anak ketiga dari 14 bersaudara. Sayangnya, 5 diantaranya meninggal dunia pada masa balita. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana dan strata-2 di Chittagong dan kemudian mendapatkan Fullbright scholarship dan menerima gelar Ph.D. dari Vanderbilt University, Nashville, Tennessee. Pada tahun 1972 menjadi pimpinan Department Ekonomi di Chittagong University.

Sebagai seorang ekonom yang memegang gelar PhD, Muhammad Yunus merupakan seorang yang memberontak terhadap teori-teori ekonomi yang dimilikinya. Dalam hukum ekonomi, sebuah bank memberikan pinjaman jika sang peminjam memiliki 5 C (Collateral, Character, Capital, Capacity and condition) yang dipandang layak. Namun, perlawanannya tersebut merupakan jawaban atas ketidakberdayaan teori ekonomi yang diyakininya untuk menjawab permasalahan kemiskinan yang terjadi di Bangladesh.

Dia pun mulai menganalisis bersama sejumlah mahasiswanya, apa sebenarnya yang menjadi dasar permasalahan masyarakat Bangladesh yang pada saat itu di tahun 70-an baru saja memperoleh kemerdekaannya. Awalnya ia mengira bahwa dalam piramida masyarakat, petanilah kaum termiskin, tapi ketika ia melihat lebih jauh, ia sadar bahwa buruh musiman yang para petani ini pekerjakanlah yang merupakan bagian masyarakat paling miskin.

Pertanyaan yang selalu membuat Yunus gundah adalah mengapa orang yang bekerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu tidak punya cukup makanan untuk makan? Akhirnya, Yunus memutuskan untuk belajar dengan orang miskin untuk memahami masalah mereka. Selama 2 tahun dari tahun 1975 hingga 1976, Yunus mengajak mahasiswanya berkeliling di desa Jobra. Kegundahan Yunus semakin menjadi-jadi ketika masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti namun tidak mudah untuk menemukan solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara berkeliling ke desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun, karena tidak ada modal wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya mendapatkan selisih keuntungan sekitar 2 sen. Muhammad Yunus pun menyadari bahwa bagi wanita ini, Sufiya Begum, untuk bisa lepas dari ikatan rentenir itu, ia sebenarnya hanya membutuhkan 22 sen! Jumlah uang yang sangat kecil. Maka, Dengan bantuan mahasiswanya, Muhammad Yunus menemukan 42 keluarga lainnya yang mengalami permasalahan serupa. Karyanya diawali dengan memberikan kredit sejumlah US$27 kepada 42 orang miskin. Pinjaman yang diberikan kurang dari US$ 1 per orang. Namun dengan jumlah pinjaman yang kecil dan tanpa agunan tersebut, meningkatkan omset seorang pembuat bangku dari sekitar 4 sen perhari menjadi US $ 1,25 per hari.

Pada tahap awal ini, dana yang dipinjamkannya diambil dari uang pribadi Muhammad Yunus. Dengan meminjamkan uang tersebut, beliau tidak menganggap dirinya sebagai seorang bankir tetapi pembebas bagi 42 keluarga miskin di Bangladesh. Akhirnya, Yunus menemukan sebuah revolusi dalam pemikirannya, kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal. Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung bahkan hanya 2 sen sehari. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya.

Rentenir memberikan bunga sekitar 10% bagi pinjaman yang diberikannya. Sehinga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya tak dapat keluar dari garis kemiskinan. Pria kelahiran Chittagong, Bangladesh pada 28 juni 1940 ini akhirnya mendirikan Grameen Bank sebagai sebuah alternatif pemberdayaan kelompok miskin di Bangladesh pada tahun 1976. Tidak kepada sembarang orang Yunus dan Grameen Bank menyalurkan kreditnya. Sebagai bagian dari usaha pemberdayaan, Yunus memberikan kredit kepada wanita dalam nilai yang kecil dan tidak menggunakan jaminan.

Memang, dalam meinjamkan uang, Muhammad Yunus mengutaman wanita terlebih dahulu. Mengapa? Ia menganalisis bahwa perempuan memiliki komitmen lebih besar untuk mengatasi permasalahan keluarganya. Perempuan-perempuan ini meminjam uang lalu berusaha memakainya sebagai modal kerja untuk menjaga agar asap dapur rumah mereka tetap mengepul, dan membiayai sekolah anak-anak mereka. Tidak seperti laki-laki yang lebih egois yang memakai uang kebanyakan untuk kepentingan mereka pribadi.

Salah satu target utama dari kredit yang diberikan Grameen adalah mereka yang tak memiliki tanah. Karena kelompok masyarakat dalam kategori tersebut sama sekali tidak memiliki akses untuk mendapatkan kredit. Hingga saat ini, Grameen Bank telah mampu melayani hampir 50% penduduk miskin di Bangladesh. Hinga 13 desember 2006, Grameen Bank mencatat sebanyak 1.074.939 kelompok di seluruh bangladesh telam mampu dilayaninya. Total kredit yang diberikannya mencapai US $ 5,887.52 pada bulan november dan dikembalikan hampir 98.97%. Bermodalkan kepercayaan kepada kelompok rentan dalam hal ini masyarakat miskin, Grameen Bank telah membantu Bangladesh untuk keluar dari lembah kemiskinan.

Muhammad Yunus menolak strategi-strategi yang dikemukakan oleh Bank Dunia bahwa untuk bisa mengatasi kemiskinan masyarakat miskin harus dididik. Baginya yang mereka butuhkan adalah kesempatan dimana mereka bisa mengoptimalkan kemampuan yang sudah mereka miliki. orang miskin jangan dilihat sebagai masyarakat malasdan tidak mau bekerja. Mereka hanya tidak memperoleh kesempatan saja, yang bila diberikan akan membuat mereka menghasilkan kinerja yang tak kalah produktif.

Muhammad Yunus dan Bank Grameennya merupakan contoh nyata aktualisasi visi besar dalam tindak nyata.Lantas apa yang kita kerjakan? Beberapa lembaga di Indonesia sudah merintis usaha seperti pembangunan beberapa UKM dan koperasi. Kita bisa berpartisipasi di dalamnya sebagaimana mahasiswa Yunus yang akhirnya bekerja bersamanya membangun Grameen.
Mengubah kata-kata menjadi aksi, sekecil apapun! Sebagaimana kita melihat hal yang dilakukan Muhammad Yunus, kita tahu,tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia.


Actions

Information

One response

21 06 2007
Tri Aji Nugroho

Bismillah,

Gimana kalau kita mengembangkan konsep grameen bank ala ikhwah?
Mungkinkah?

Seharusnya bisa lebih oke tuh, mengingat jejaring lingkaran yang ada bisa menjadi salah satu sarana kontrol yang oke, sarana pembinaan bisnis yang oke juga.

Struktur2 wilayah, daerah, cabang, dan ranting menjadi cabang2 bank nya. Kan menjadi kekuatan ekonomi yang wah banget tuh pastinya.

Gimana bro? ada analisis terkait hal ini ga? coba dibuat aja konsep sederhananya..

Jzk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: