Mereka Mengajariku Makna Hidup

4 10 2007

 

Allah sekan menjawab pertanyaan-pertanyaanku saat aku bersama teman-teman ngabuburit di the view ngeliat pemandangan2 yang menurutku cukup indah dibandingkan Bandung kota, apalagi Jakarta yang semrawut. Saat mencoba menghayal tentang masa depan, mencoba menelusuri masa lalu dan mencoba pula menerka-nerka Indonesia masa depan. Semua terlintas semrawut di kepala, tanpa jelas arah dan tujuan.

Setelah adzan berkumandang dan menikmati kurma dan teh kotak, akhirnya kami turun ke kota untuk sholat dan kemudianmencari makanan. Kali ini pilihan kami di Bebek Bakar Ibu Chiek di deket Masjid istiqomah, yang konon enak.

Dan pembelajaran pun dimulai di sana..

Aku menemui 3 bocah kecil, Eri kelas 6 SD, Dadan kelas 4 SD, dan yang paling kecil Ibam kelas 1 SD. Jujur miris saat aku melihat mereka memanggul “ulekan” dari batu untuk kemudian mereka jual. Mereka berasal dari Padalarang. Setelah mereka pulang sekolah (ini yang membuat aku kagum) mereka membawa ulekan yang sudah dipersiapkan orang tua mereka untuk di bawa ke Bandung naik Kereta Api. Di Bandung mereka berjualan dari gang ke gang dengan memanggul itu.

Luar biasa berat, itu yang aku rasakan saat mencoba mengangkat beban yang biasa mereka bawa. Kurang lebih 10 kg deh yang masing2 mereka bawa. Kecuali Ibam yang masih kecil, sekitar setengah dari Eri bebannya. Aku ngebayangin mereka yang masih kecil itu sudah harus mengangkat itu keliling Bandung.

Mereka pulang dari Bandung jam 10 malam naik kereta. Hanya saja terkadang mereka tidak pulang jika jualan mereka tidak laku. Mereka memilih tidur di Masjid untuk kembali berjualan lagi esok hari. Obrolan2 ku dan teman dengan Eri yang memang kami ajak ngobrol lebih dulu, membawaku menyelami perasaannya dan kecerdasan dia secara intelektual. Aku melihat dia anak yang cerdas. Bisa menjawab pertanyaan pertanyaanku. Aku pun melihat dia seorang yang bertanggung jawab saat dia memutuskan untuk tidak pulang jika tidak laku, karena hanya buang-buang uang transport dia juga mau menjaga teman-temannya yang relative masih kecil. Aku pun melihat kejujuran yang mendalam disana. Maaf, saat kami memberikan Eri selembar 20 rb-an.. apa yang lantas Eri jawab? Nanti dibagi setiap orang 6 ribu lima ratus terus sisa lima ratusnya dikasih ke pengemis.. Subhanallah…

Mereka pun ga mau klo disuruhmengemis atau minta-minta. Kata Eri itu Haram! Aku mencoba memijat-mijat dia sambil bertanya apakah dia capek, dengan lugu dia jawab, iya Kang!! Punggung kerasanya sakit.. tapi ya gimana lagi?? Aku sangat terharu, meski aku yakin dia mampu. Tp aku masih ngerasa beban itu terlalu berat bagi mereka. Tp tekanan ekonomilah yg membuat mereka seperti itu. Disisi lain aku melihat Eri, Dadan dan Ibam ditempa dengan baik oleh Orang Tua mereka. Mereka dididik kerja keras dan tanggung jawab dan tidak ketinggalan kejujuran.

Rabb, aku semakin meyakini masa depan bangsa ini sangat cerah. Aku melihat sosok Eri cs yang pekerja keras, tanggung jawab, dan jujur. Haru memang mendengar kisah mereka, dan aku yakin mereka jujur lantaran sebelum-sebelumnya kami sudah sering ngobrol dengan anak2 jalanan, sehingga bisa tau mana yang bohong dan yang jujur. Dan kuyakin Engkau akan membalas perbuatan mereka dengan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Ya, hari ini Mereka mengajariku banyak hal. Tentang semangat kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran. Terima kasih dik,, ini pelecut bagi kami.. Klo kamu bisa mengangkat beban yng lebih berat dari seharusnya, mengapa kami tidak?? Semoga Allah melindungi kalian…


Actions

Information

7 responses

5 10 2007
lia

they indeed teach us🙂

18 10 2007
Pebrusani Y

Terlepas dari simpatik dan bersahaja-nya yang tersayang Eri, Dadan, dan Ibam…serta pelajaran yang bisa kita ambil

Mereka adalah “korban”, kasarnya “korban kejahatan orang tua mereka”…kalo pakai logika orang bodoh, (mungkin)suuzhon, dan kasar seperti saya…ngapain jualan cobek ke bandung (daerah kota lagi, kalo minggu di FO2 pasti mereka hadir)…yang notabene tingkat kebutuhan terhadap komoditi jualnya limit menuju “n0l”, mendingan jualan di padalarang…ga usah pake ongkos…orang tua tidak perlu khawatir anaknya hilang di kampung orang lain…

Indonesia di masa depan…kalau hal ini tetap berlanjut…mereka akan jadi orang-tua2 yang memanfaatkan simpati orang lain terhadap kesengsaraan(naudzubillah).

20rb untuk mereka insya 4JJ bukanlah sebuah dosa, tapi alangkah baiknya menahan untuk mendidik dan memberikannya untuk mereka yang benar2 membutuhkan,
contohnya yang ingin sekolah(sekolah=masa depan)…insya 4JJ lebih manfaat kalau coba sumbangkan ke sekolah langsung bilamana ada siswa yang kesulitan buat bayar SPP (sekolah dasar di kab bandung, 20rb bisa jadi SPP selama sebulan)
Hanya sekedar pemikiran lain dari orang bodoh…tidak bermaksud menyalahkan atau mendebat.

24 10 2007
alan satria

mudah-mudahan saja meskipun mereka dieksploitasi orang-tuanya, tetap disekolahkan. Yang repot kalau mereka jadi full-time employee buat orang-tuanya…

7 11 2007
gilangwhp

Akang Pebrus🙂
Siipp. Ya.. betul tuh!! itu juga yg saya dan tmen2 pikirkan..
Mungkin bs jadi bahan buat kaderisasi 2006 juga
Syang anak ITB skarng cuma bisa berteori ga kontributif
Tapi waktu itu yaa niatnya cuma mau membuat mereka sedikit senang…

Kapan main ke img kamerad2??

27 11 2008
sultangraha

harapan kadang tak sesuai dengan kenyataan, orang tua kadang tak sehabat yang diinginkan, kebijakan yang diberikan orang tua kadang kekurang ilmuan dan kurang pengatahuan tentang hidup menuju kebaikan, harga diri, masa depan, yang tak ssuai dengan jaman sekarang, perkawinan muda kadang mendatangkan, ketidakdewaaan, ketidak mengertian mendidik anak sebagai generasi penerus yang akan menjalankan kehidupan ini, kadang anak hanya dijadikan untuk balas kepengurusan bukannya iklas dalam menerima anugrah yang telah diberikan berupaq anak untuk dididik dan dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, bukan hanya sekedar anak sebagai beban dalam kehidupan karena perlu dibesarkan, hidup tidak hanya terpatok bahwa perlu uang untuk kehidupan ini, kalo kita yakin bahwa hidup ini hanya menjalani, yakinkanlah kepada anak bahwa kita perlu menjalankan kehidupan ini, dengan penuh keyakinan, bukan hanya belas kasihan orang, nasihat orang tua, pendidikan, juga pondasi agama yang kuat, untuk menempuh kehidupan ini, dengan yakin dan kuat , mampu dalam menjalankan hidup, iktiar dan doa

16 08 2009
ade

perjalanan hidup mereka sangat keras kita saja belum tentu dapat melakukan hal demikian,perjalanan setiap insan berbeda-beda mungkin mereka bekerja dengan tenaga dan kejujuran mereka tetapi sama halnya dengan orang yag bekerja dengan pikiran dan kejujuran mereka…………….intinya tak keberhasilan yang didapat dengan mudah.

20 01 2010
gimenk

Tidak ada yg pasti dalam hidup ini, fenomena di atas dapat memunculkan argumen, pemikiran, perasaan yg berbeda-beda. Banyak yg tidak kita ketahui akan arti kehidupan, yg terpenting adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari kehidupan. Kerja keras, tanggung jawab dan kejujuran Eri dkk bisa memberi hikmah bagi kita. Dengan bercermin memperbaiki diri, Insya Allah kita dijadikan manusia berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: