4 Tahun Tsunami : Prediksi Tsunami ke Depan Bisa Lebih Akurat

26 12 2008

Eddi Santosa – detikNews


Foto: academic.evergreen.edu

Hannover – Prediksi waktu tempuh tsunami mencapai garis pantai bisa lebih akurat. Penginderaan satelit juga membantu memetakan daerah terdampak dan daerah aman.

Hal itu mengemuka dalam seminar bertema “Tsunami di Indonesia: Belajar Dari Bencana” yang digelar oleh PIP PKS Hannover di Kornerstrasse, Hannover (Jerman), 25/12/2008.

Seminar yang juga diikuti secara online itu diselenggarakan untuk mengenang 4 tahun bencana tsunami Aceh, dengan narasumber Widjo Kongko M.Eng dari Universitas Hannover dan M. Rokhis Khomarudin M.Sc dari Deutsches Zentrum fuerLuft- und Raumfahrt (DLR) – Oberfafenhofen.

“Berdasarkan simulasi model tsunami terkini dengan menggunakan data resolusi detil didapati bahwa tsunami arrival time (waktu penjalaran tsunami) sampai ke daratan untuk kasus studi di Cilacap, lebih cepat berkisar 10 menit dari prediksi sebelumnya,” demikian Widjo, seperti disampaikan Maemun Fauzi kepada detikcom.

Dikatakan bahwa informasi ini sangat penting, karena berkaitan dengan sistem peringatan dini dan perencanaan evakuasi. Dengan hasil ini, menurut Widjo, prediksi model selama ini dengan menggunakan data batimetri kasar harus dikoreksi dengan menggunakan data batimetri yang lebih detil.

“Sehingga prediksi waktu tempuh tsunami mencapai garis pantai menjadi lebih akurat,” tandas pria yang sehari-hari bekerja sebagai peneliti BPPT Jogjakarta itu.

Kandidat doktor tsunami ini mengingatkan bahwa meskipun penyebab tsunami sudah diketahui yakni karena gempa teknonik dasar laut, gempa vulkanik dari gunung berapi di laut, longsor, atau jatuhnya meteor dari atas, namun hingga saat ini belum ada satupun ahli yang bisa mengetahui secara eksak, di mana dan kapan tsunami akan terjadi.

Penginderaan Satelit

Sementara itu M. Rokhis Khomarudin M.Sc mengatakan bahwa berbagai upaya deteksi dini sudah dapat dilakukan, selain dengan pemasangan tsunami early warning system, juga dengan bantuan satellite remote sensing.

“Dengan bantuan satellite remote sensing ini dapat dipetakan di mana daerah yang aman, gedung yang rentan terhadap tsunami dan lokasi potensial untuk bisa dijadikan tempat ungsi darurat,” jelas Rokhis.

Menurut Rokhis, dalam hal pemetaan distribusi penduduk, data satellit remote sensing dapat membantu mendetilkan informasi sebaran penduduk. “Di samping itu, dengan satellite remote sensing, kita dapat menentukan lokasi evakuasi vertikal untuk tsunami,” terang Rokhis.

Peneliti pada LIPI Jakarta itu berpendapat, bahwa berdasarkan kajian model tsunami diketahui waktu kedatangan tsunami di Indonesia kurang lebih hanya antara 30-60 menit, sehingga mutlak untuk diketahui pemetaan lokasi-lokasi wilayah aman tsunami yang tepat dan memetakan lokasi evakuasi vertikal untuk tsunami.

“Dan itu bisa dibantu dengan melakukan bantuan satellite remote sensing,” demikian ujar pria yang akrab disapa Rokhis itu.
peneliti LIPI Jakarta.

Seperti diketahui, bencana dahsyat tsunami (26/12) empat tahun lalu, telah menghancurkan Aceh. Tsunami diakibatkan gempa tektonik di dasar laut itu menimbulkan gelombang air hingga mencapai ketinggian lebih dari 16,5 m, menewaskan lebih dari 126.000 orang, 37.000 orang hilang dan lebih dari 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. Selain Aceh, beberapa wilayah Asia Tenggara hingga kawasan Tanduk Afrika juga terkena dampaknya.

(es/es)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: